Tuesday, July 9, 2019

Guru BK Bukan Polisi Sekolah




“GURU BK”

Apa yang teman-teman pikirkan ketika mendengar profesi tersebut?

Pasti yang terlintas adalah polisi sekolah, satpam, atau guru yang galak, bukan? :D

Bisa dibilang inilah persepsi yang salah tentang guru bk atau kita sebut saja sebagai konselor. Meskipun begitu, persepsi teman-teman tidak bisa disalahkan oleh siapapun, karena mungkin itulah yang teman-teman rasakan. Guru BK yang mengejar anak-anak bolos sekolah hingga ke ladang warga, yang berdiri tegap di depan gerbang memeriksa kelengkapan seragam, atau yang bertugas mengurusi anak-anak yang senang sekali melanggar peraturan. Sebenarnya tugas utama konselor bukanlah itu.

Persepsi negatif tersebut sebenarnya terbentuk disebabkan banyak sekali guru bimbingan dan konseling yang tidak terlahir dari proses belajar yang panjang, mereka lahir dari jurusan-jurusan lain tanpa tau peran dan fungsi seorang konselor. Padahal seorang konselor sangat berperan dalam proses tumbuh kembang peserta didik. Seorang ahli yang memahami kebutuhan peserta didik melalui assesment atau pendataan sehingga tidak akan menjudge semua perilaku peserta didik dengan label “NAKAL”.

Seorang konselor selayaknya mampu membuat peserta didik nyaman ketika berada didekatnya sehingga ketika peserta didik mengalami masalah, ia tidak takut untuk bercerita. Mampu menjadi pribadi yang menyenangkan, sehingga tidak ada sekat antara dirinya dan peserta didik. Mampu mengakses informasi dengan baik, sehingga mampu membantu peserta didik dalam mengembangkan potensinya.

Nah, oleh sebab itu penting sekali bagi kita untuk memahami sebenarnya seperti apasih peran konselor sebenarnyaa. Mari kita ketahui lebih dalam berdasarkan standarisasi kerja konselor yang terwujudnya berkat Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia (IPBI) pada konvensi nasional VII IPBI di Denpasar, Bali (1989) dan dikonkretkan pada Konvensi Nasional VIII di Padang (1998). Berikut pekerjaan seorang konselor J
1.      Mengajar dalam bidang psikologi dan bimbingan konseling
2.      Mengorganisasikan program BK
3.      Menyusun program BK
4.      Memasyarakatkan layanan BK
5.      Mengungkapkan masalah klien/konseli
6.      Menyelenggarakan pengumpulan data tentang minat, bakat, serta kondisi kepribadian
7.      Menyusun dan mengembangkan himpunan data
8.      Menyelenggarakan konseling perorangan
9.      Menyelenggarakan bimbingan konseling kelompok
10.  Menyelenggarakan orientasi studi siswa (OSPEK)
11.  Menyelenggarakan ekstrakulikuler
12.  Membantu guru bidang studi dalam mendiagnosis kesulitan belajar peserta didik
13.  Membantu guru bidang studi dalam menyelenggarakan pengajaran perbaikan dan program pengayaan
14.  Menyelenggarakan bimbingan kelompok belajar
15.  Meenyelenggaran pelayanan penempatan peserta didik
16.  Menyelenggarakan bimbingan karir dan pemberian informasi pendidikan atau jabatan
17.  Menyelenggerakan konferensi kasus
18.  Menyelenggarakan terapi kepustakaan
19.  Melakukan kunjungan rumah
20.  Menyelenggarakan lingkungan klien
21.  Merangsang perubahan lingkungan klien
22.  Menyelenggarakan konsultasi khusus
23.  Mengantara dan menerima alih tangan
24.  Menyelenggarakan diskusi profesional
25.  Memahami dan menulis karya-karya ilmiah dalam bidang BK
26.  Memahami hasil dan menyelenggarakan penelitian dalam bidang BK
27.  Menyelenggarakan kegiatan BK pada lembaga yang berbeda
28.  Berpartisipasi aktif dalam pengembangan profesi BK

Wah banyak banget ya pekerjaan sebenarnya seorang guru BK, jadi bingung bacanya. Hoho 
Sebenarnya secara garis besarnya, tugas guru BK ialah meliputi :

1. Membantu pengembangan minat bakat peserta didik
Pengembangan minat bakat ini tidak hanya sekedar membantu peserta didik berprestasi pada kemampuan yang ia miliki. Namun juga berkenaan dengan layanan penyaluran, menyalurkan peserta didik kepada kegiatan yang tepat berdasarkan assesment yang telah dilakukan. 

2. Memberikan bimbingan mengenai permasalahan pribadi-sosial, belajar dan karir. 
Bimbingan pribadi-sosial bisa berkenaan dengan membantu peserta didik menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya, agar bisa mengaktualisasikan diri dengan baik. Bimbingan belajar bisa berkenaan dengan kesulitan belajar, serta bimbingan karir yaitu pemberian bantuan untuk sekolah lanjutan. 

3. Memberikan layanan konseling
Perbedaan bimbingan dan konseling ialah terletak dari seberapa jauh masalah itu hadir. Untuk permasalahan yang belum terjadi, maka konselor menggunakan bimbingan sedangkan untuk permasalahan yang telah terjadi, konseling adalah cara yang digunakan. Banyak teknik yang digunakan dalam layanan konseling, seperti misalnya teknik reward-funishment menggunakan token ekonomi. Semakin sering perilaku yang sesuai ditampakkan oleh peserta didik, maka ia akan mengumpulkan token ekonomi (bisa berbentuk logam atau kepingan) untuk ditukarkan dengan hadiah yang diinginkannya untuk memperkuat perilaku tersebut. 

Itulah tugas guru BK yang kerap disebut sebagai polisi sekolah atau satpam. Karena banyak pekerjaan yang dilakukan tidak terlihat oleh kasat mata, alias ghaib. Hehe... selain pengembangan minat bakat, penyelenggaran ekstrakulikuler, banyak pekerjaan berupa pemberian layanan bimbingan dan konseling yang hanya dilakukan di ruang konseling tanpa diketahui banyak orang. Hal ini disebabkan asas kerahasiaan yang guru BK pegang erat, jadi tidak boleh ada satu masalah klien/konseli yang bocor. J 



Sunday, July 7, 2019

About Me




Hallo teman-teman :)
Salam kenal dan selamat mampir diblog saya. 

Alhamdulillah di 2019 ini saya mulai menekuni blog saya yang sudah lama terbengkalai ini dengan beragai macam tulisan mulai dari fiksi dan nonfiksi alias gado-gado. Eits, tapi sebelumnya perkenalkan dulu, saya Siti Rahayu Fadilah namun dalam kepenulisan saya kerap menggunakan nama pena ukh.iyu.

Ukh artinya sebagaimana yang teman-teman tau, yaitu sebutan untuk anak perempuan. Dan iyu merupakan panggilan singkat di lingkungan saya tinggal. Oleh karnanya, pada buku pertama saya jadilah ukh.iyu sebagai peneguhan nama pena saya. hoho

Saya lahir di Lampung, 31 januari 1998. Namun saya menetap di Serang, Banten sejak kecil hingga sekolah menengah atas. Saat ini saya kembali lagi ke tempat kelahiran saya, untuk menempuh pendidikan strata 1 di UIN Raden Intan Lampung program studi Bimbingan Konseling Pendidikan Islam. 

Saya aktif sebagai penulis cyber, dan saat ini sudah menulis dua buah buku solo. 

1. Novel berjudul Biarkan Takdir Memainkan Perannya (2019)
2. Antologi Cerpen berjudul Naskah Tentang Hati (2019)

Dalam kepenulisan, saya menyukai menulis apapun selagi hal itu menarik. Sehingga prestasi saya dalam kepenulisan tidak terfokus pada satu cabang, seperti puisi, cerpen, dan lainnya. 

Prestasi saya dalam menulis, di antaranya :
1. juara 2 infokom jurnalistik kab. Serang 
2. Juara 2 karya tulis ilmiah pekan olahraga santri 
3. Cerpen terbaik beasiswa perintis prov. Banten 
4. Juara 3 resensi buku hafidz rumahan 
5. Pemenang kompetisi literasi bimas islam 

Selain mempunyai hobi menulis, saya juga kerap menjadi master of ceremony diberbagai kegiatan seminar dan workshop. Serta, aktif sebagai asisten lab konseling dan kegiatan volunteer.


Untuk berkomunikasi dengan saya :
FB               : Ukh iyu

IG               : @Ukh.iyu 

Twitter        : @Iyu_ukh

WA             : 083176516716

Email          : Rahayufadilah54@gmail.com

Saturday, July 6, 2019

Puisi : Senoktah Cinta





Kudekap erat bantal usangku
Terlarut menyemai bunga malam

Angan melayang terbang
Terseret searah ilusi
Tertuju pada senoktah cinta

Binar latif bola matamu

Wajah berseri serupa pelita
Genggaman erat jemarimu syahdu
Menjamahi lekuk rindu
Menyayat pilu detak warna

Angin semilir membelai manja

Buatku malu termangu sunyi
Alunan rindu tak terpola
Menyadarkanku pada realita
Hantarkan fajar pudarkan petang
 

07 juli 2019






Sekelumit Rasa dalam Islam



Hidup di tempat dan waktu yang tidak pernah disepakati dengan diri sendiri ketika terlempar ke dunia, tempat dimana merasakan pahitnya kefuturan bukanlah hal yang mampu direncakan olehku dan kita. Hidup di Kab. Serang, Provinsi Banten sejak ibu dan bapakku membangun rumah sederhana di Kp. Cibadak Des/Kec. Jawilan RT/RW:016/005 yang sekarang telah dikelilingi deretan pabrik milik mereka yang tentu saja tidak terlahir sebagai pribumi. Saat ini, mendekati tahun kedua aku kembali ke Babakan Loa, Pesawaran, Lampung Selatan tempat yang memberiku nama Siti Rahayu Fadilah pada 31 januari 1998, sebuah desa pertambangan emas yang sedang mahsyur sukses mengacaukan mindset para pemuda untuk tak bersekolah karena merasa mampu mencari uang tanpa pendidikan. Aku kembali, setelah 18 tahun hidup di Serang yang terkenal sebagai kota industri, melanjutkan strata 1 dengan jurusan yang menyenangkan seputar pendidikan, emosi dan kepribadian. Ya, bimbingan dan konseling. Setidaknya itulah secerca problematika yang bisa menjelaskan jurusan tempatku belajar di UIN Raden Intan Lampung, kampus hijau.

2016 adalah tahun pertama aku berkesempatan menjadi seorang santri. Tinggal di Ma’had Al-jamiah, sebuah pesantren kampus hingga rasanya waktu begitu terbatas untuk mengenali dunia luar yang katanya menyenangkan tanpa segala kekang dan aturan, mulanya aku bosan benar-benar bosan mengenal islam lewat aturan pesantren namun Allah memberi jawaban atas keluh yang ku simpan.
“Kalian salah mencoba, seharusnya rasakan dulu hidup sendiri di luar, baru rasakan hidup dipesantren dan bandingkan.” Nasehat lantang Ustad Asep Budianto beliau adalah bendahara Ma’had Al-jamiah yang kami takdzimi, kekata itu terlontar ketika beberapa santri memutuskan tuk mengikuti kata orang, hidup di luar pesantren itu menyenangkan.

Aku mulai mencintai waktu sebagai santri setelah mendapat banyaknya petuah dari ustad dan musyrifah, setelah aku menyesuaikan diri 2 semester bersama segala hal baru yang mungkin tidak akan ku temui ditempat lain, itu bukan fase yang mudah tuk dilalui seseorang yang terbiasa pulang malam karena organisasi dan memiliki egoisme diri yang tinggi sepertiku. Iqob atau hukuman yang tak hentinya karena tak halaqah dan tutorial, manajemen waktu yang buruk, tak terbangun padahal jaros (bel) selalu saja menjerit sebelum fajar malu-malu terbangun dari lelapnya, juga sulitnya menerapkan bahasa arab atau inggris dalam keseharian. Ternyata disini indah, seperti salah satu judul lagu dari band nasyid Gontor, lagu yang pernah  aku nyanyikan bersama santri lainnya ketika muhadharah, menjadi kenyataan. Di samping sulitnya menghafal dan mudah melupakan hafalan, itu adalah dinamika hidup seorang santri. Namun, ini bukanlah awal aku tersesat di jalan yang benar ini. Lantunan lagu Raihan adalah salah satu di antara pengiring langkah berhijrah.

Iman tak dapat diwarisi, dari seorang ayah yang bertakwa..
Ia tak dapat di jual beli..
Ia tiada di tepian pantai..
Walau apapun caranya jua engkau mendaki gunung yang tinggi..
Engkau merentas lautan api..
Namun tak dapat jua dimiliki..
Jika tidak kembali pada Allah..

Itulah beberapa bait lagu yang masih saja terngiang di telingaku, mengingatkanku akan semangatnya mengikuti berbagai rutinitas yang ada di lembaga dakwah. Ketika aku memulai dengan menjadi bagian dari berbagai organisasi SMA dengan niat mengalihkan diri dari kekosongan. Tepat setelah naik kelas 2, aku masih bertahan dibeberapa organisasi dan benar-benar merasuk kedalamnya, seperti MPK yang mengamanahkan posisi sekretaris, PMR sebagai wakil ketua, penggiat operasi lapangan di PRAMUKA dan tentunya ROHIS yang memaksaku berhijab karena malu melihat rekan-rekan satu halaqahku. Itu semua terjadi pada periode (2013-2014). Serta, lolos menjadi bagian dari beasiswa perintis IV SNAB UNTIRTA pada bulan mei 2015 hingga saat ini.

Namun mencintai islam tak sesederhana itu, hijrah penampilan tanpa pemikiran belum cukup rasanya. Halaqah rutin setiap pekan yang semestinya jadi penguat justeru terus saja menyeleksi kader, bosan adalah salah satu sebab kepergian mereka. Jangan tanya aku, entah sudah berapa kali aku mencoba melarikan diri, namun Allah tetap saja membuatku bertahan bersama 7 kader akhwat dan 4 ikhwan, aku dan mereka hanyalah sisa dari banyaknya anggota yang mendaftar di awal. Sunatullah adalah kata yang sering menjadi penguat dari murobiku, bapak Ajiji., S,Kom seorang guru bimbingan dan konseling yang mengulang pendidikan S1 nya dijurusan tersebut merangkap sebagai pembina pramuka dan murobi di Rohis. Beliau, adalah alumni dari SMA tempatku bersekolah dan menjadi ketua Rohis semasanya.

Kita semua tau, bahwa lembaga dakwah dan pesantren memiliki beberapa perbedaan, tapi yang nampak bagiku bukanlah itu. Dua tempat aku belajar mengenal agama ini adalah perbedaan rasa yang menyenangkan. Pesantren tempatku tinggal saat ini begitu kental dengan Nahdatul Ulama, suatu mazhab yang menurut masyarakat tidak membunuh tradisi masyarakat, bahkan tetap memeliharanya, yang dalam bentuknya yang sekarang merupakan asimilasi antara ajaran Islam dan budaya setempat. Sedangkan lembaga dakwah adalah suatu gerakan yang mengajarkanku cara memiliki jiwa kepemimpinan, membuatku mengerti hakikat wanita yang sesungguhnya serta berbagai hal menarik dalam kaderisasi lainnya. Itulah yang aku rasa, bahwa islam banyak rasanya.

Beriringan dengan hal tersebut, problematika hijrah pemikiran belum usai selepas hijrah penampilan. Lingkungan yang membentuk kepribadianku sedari kecil sulit sekali menerima jilbab lebar membalut tubuhku. Beberapa anggota keluarga tak menunjukkan itikaf baik untuk niat baikku, sering kali mengkritik dengan beberapa kata yang begitu menyakitkan hati. Aku sempat marah tapi berakhir lelah karena marah adalah salah, hingga pada akhirnya aku hanya mampu menjelaskan perubahanku adalah kewajiban dan membiarkan mereka larut menyesuaikan diri dengan perubahan itu.
Allah mudah sekali membolak-balikan hati seseorang, perlahan semuanya berubah begitu saja seiring detik yang bergeser tak mampu ku tahan, entah dengan kata apa harus mendefinisikan berbagai keajaiban. Bapak yang menjadi seorang ayah dan imam ideal bagi keluarga akhirnya menjadi orang yang paling mendukungku, ibu menjadi semakin shalehah dengan jilbab yang kini membalutnya, juga adik kecilku yang memiliki pemikiran lebih jauh dari usia ia sekarang, tinggal di pesantren salaf di Kab. Serang jarang sekali ingin pulang karena beralasan, “Di rumah itu sholat subuh sama ishanya telat terus.” Katanya, ketika ia liburan MTS kelas 2.

Itulah awal, lalu aku rasanya menyesal karena ketika Allah memberi apa yang aku sematkan di hati terdalam pengetahuanku akan islam masih sangat dangkal. Semua orang bilang bahwa hijrah butuh landasan ilmu, ingin lebih baik artinya harus hidup di lingkungan yang baik agar menjadi baik. dan lalu diriku mengikuti alur begitu saja, entah mendapat ilham dari mana hingga memutuskan melanjutkan ke Universitas Islam dan tinggal di pesantren seorang diri tanpa satupun teman semasa SMA yang mendaftar bersama di tempat ini, di UIN Raden Intan beserta Ma’had Al-jamiah yang membimbingku mengenal lebih dalam tentang islam.

Thursday, July 4, 2019

Cerpen: Setitik Cahaya dalam Surau


Udara kian membeku ketika lembaran ayat-Nya disentuh dengan kekhidmatan, laron tak lama menjemput ajalnya di sebuah baskom berisi air setelah bermain-main dalam surau kami yang remang, hanya setitik cahaya yang bisa mati kapan saja ketika minyak tanah dalam botol habis terlalap api yang menerangi kami setiap petang.
Kami duduk melingkari Pak Yai yang terkantuk-kantuk tapi masih memantau tiap bacaan kami dengan rapi, jemarinyapun masih kuat menggenggam rotan panjang. Debaran jantung kian terasa ketika giliranku akan tiba setelah beberapa rekanku yang membaca terbata-bata, meski sisanya terlewat begitu saja dengan aman. Hembusan napas yang tertahan, rasa takut, juga banyak hal yang tak dapat ku jabarkan.
Aku menunggu detik demi detik yang tak mungkin berharap jadi menit, menanti bagianku malam ini.
“grrkk..” Suara rotan Pak Yai tepat berada di hadapanku, menunjuk ayat yang mesti ku lanjutkan dari malam sebelumnya. Aku memulai membaca setiap huruf, dengan rasa bimbang yang masih sama.
“Hmm..” Pak kyai menghentikan bacaanku dengan menunjuk pada ayat yang ternoda oleh kesalahanku.
“Itu bacaanya panjang apa pendek.” Pak Yai menghentikan bacaanku lagi dengan mata yang setengah tertutup.
“Hmm hmm.” Mulutku seakan terkunci, tak mampu berkata-kata.
“Panjang apa pendek?” Meski tak ada bentak atau nada tinggi malam ini, namun sulit sekali bibir ku terbuka lagi.
“Hmm, pendek yai.” Wajahku semakin tenggelam, aku menundukkan pandanganku. Lalu sekarang Pak Yai yang membaca dengan merdunya, beserta penjelasan lengkap mengenai tajwid dan hukum bacaannya. Satu ayat setiap malam, rasanya begitu berat melewatkan ayat demi ayat ini.
Aku pulang dengan rasa lega malam itu, hal yang menyenangkan adalah ketika mengaji selesai. Kaki-kaki mungil lincah melangkah beriringan, aku di antara mereka saling bergenggaman tangan. Jarak dari rumahku menuju Surau memang lumayan jauh, butuh 15  menit untuk menempuh perjalanan. Jalan sepetak yang hanya mampu dilewati oleh kendaraan roda dua, berkerikil dengan pulau di tengahnya sisa hujan dan kendaraan yang menyebabkan jalan berlubang, hanya cahaya bulan dan gemintang yang menunjukkan kami arah pulang.
Kami selalu mengisi jauhnya pulang dengan hal-hal kecil yang membuat tawa riang, bercerita tanpa tema yang mesti ditentukan. Seperti tebak-tebakkan malam ini, dari Eko temanku, yang rumahnya tepat berada di samping rumahku.
“Temen-temen, coba tebak.  Tak nampak namun jelas ada, sebab suaranya menggema seperti motor lewat rumah kita malam-malam brrm brrm..” Eko memberi tebak-tebakkan seraya mempraktekan gaya yang seolah sedang naik motor.
“Motor?” Lufi spontan menjawab.
“Seperti motor, Fii” Eko menimpali, kami menertawakan Lufi tanpa merasa berdosa
“Yaa, Eko brrmmm brrmm.” Katanya, ikut memperagakan apa yang Eko lakukan
“Hehehe.” Tawa khas anak yang belum bhalig semakin bersaing dengan jangkrik yang sedari tadi ingin didengar.
“Apa coba apa?” Eko melanjutkan tebak-tebakknya.
“Motornya kuman?” Aku menjawab asal, sedang 4 kawanku Eko, Lufi, Ira, dan Andi hanya menatapku datar.
“Kuman-kuman, kamu kumannya. Orang seperti motor, seperti” Eko menahan emosinya lalu ikut tertawa bersama, perutku rasanya sakit sekali banyak tertawa bersama mereka.
“Pasrahlah pasrah.” Kami melambaikan tangan, sudah tak kuat. Sayang tak ada kamera seperti di acara TV uji nyali. Jangankan kamera, lampu saja tak ada di desa kami.
“Apa ko jawabannya?” Ira menarik-narik sarung eko yang melingkar di lehernya, seperti bapak-bapak yang sedang meronda.
“Nanti aku beri tahu, besok setelah mengaji.” Eko menjawab dengan mantap.
“Huuu.” Eko segera lari sebelum kami mengamuk, sebab kami telah sampai pada perkampungan yang terang sebab tawa renyah yang terdengar keluar.
**
“Malam inikan malam jum’at, sekarang kita yasinan. Kalau ada yang ndak bisa baca yasin, baca surat Al-ikhlas ndak apa-apa.” Pak Yai memberi arahan, sebab banyak anak kecil yang masih baca turutan (juz amma).
Pembacaan yasin diawali dengan doa dan hadorot, aku dan kawanku berlomba cepat-cepat membaca yasin, siapa yang selesai lebih dulu akan mengejek yang lainnya. Setelah lelah melakukan ejek-ejekan bersama kami memakan makanan yang kami bawa dari tiap rumah, dibuat oleh ibu-ibu setiap malam jum’at. Belum selesai bacaan yasin yang lain, serta papais yang terbuat dari tepung beras, santan dan garam dengan pisang di dalamnya belum habis ku telan. Suara ketukkan pintu, ah bukan seperti ketukan seperti hentakan, kencang sekali membuat pembacaan yasin terhenti. Pak yai sigap bangun, beriring aku dan yang lain.
“Pak Asmir?” Pak Yai melangkah keluar dari ruang mengaji kami yang lantainya terbuat dari semen, tak karuan seperti jalan di kampungku yang berlubang.
Kami hendak keluar, sebelum Pak Yai menahan kami dengan isyarat tangannya yang menghentikan langkah kami.
“Lanjutkan yasinannya.” Sambungnya. Yasin tetap dilanjutkan namun nada-nada tinggi Pak Asmir memang tak bisa teralihkan, mengganggu konsentrasi kami. konsentrasi makan papaisku dan kakak-kakak yang tadi khusyu mengaji. Suara di luar suraupun sudah semakin tidak karuan, tangis dari Bu Yai dan amarah dari beberapa orang yang dibawa oleh Pak Asmir.
“Kyai gadungan, mana ada Yai yang makan uang hasil dari warga desa tuk memasang lampu.” Pak Asmir menarik Pak Yai dengan kasar. Sedang tiba-tiba Eko berdiri di ambang pintu.
“Bapak, bapak ndak pantas membentak-bentak guru ngajiku. Bapak ndak berhak mengusir pak yaiku dari sini” Eko menatap lurus ke arah Pak Yai dan Pak Asmir, bapaknya.
“Eh. Kamu ndak tau apa-apa anak kecil.” Pak Asmir menunjuk anaknya.
“Aku tau pak, tau. Aku mendengar semua yang bapak bicarakan di rumah. Mengusir pak yai, sebab bapak ingin terlihat di kampung kita.”
“Bicara apa kamu cah semprul.” Pak Asmir semakin menggebu-gebu.
“Aku tau pak, masalah lampu yang gak sampai kampung kita. Bukan karena pak yai yang menjabat sebagai kepala desa tapi sebab bapak dan beberapa orang-orang yang menghalangi setiap petugas lampu ingin masuk ke desa kita.” Eko menatap bapaknya dan beberapa orang lainnya.
“Eh, kamu ya. Buktinya mana?” Pak Asmir semakin naik pitam.
“Apa bapak nda kasian, aku mengaji dengan lampu dari minyak tanah yang pak yai buat dari botol-botol beling bekas. Mana mungkin pak yai ingin makan uang haram sedang kita mengaji di sini, bapak tak pernahkan membayar pak yai sebab jasanya mengajariku.” Air mata Eko tak hentinya menganak dari tegarnya yang tertahan.
“Lufi, Ira, Andi, Rana.” Eko memanggil tanpa menengok ke arah kami.
“Kalian ingat kemarin malam aku memberi tebak-tebakan?” kami mengangguk tanpa sedikitpun suara.
Tak nampak namun jelas ada. Aku ingin memberi kalian jawabannya malam ini.” Mendadak keadaan menjadi hening.
“Jawabannya adalah pak yai.” Eko menyeka air matanya sejenak.
“Sebab kadang beliau mengajar kita tanpa cahaya ketika minyak tanah habis pada botol-botol lampu, ketika berhari-hari beliau tak punya uang untuk mengisi minyak tanah kembali tapi kita masih melihatnya dengan jelas melalui suara ketika mengaji sebab Pak Yai ndak bicara dengan mulut saja tapi dengan hati, sehingga menyentuh hati kita juga.” Eko menyampaikannya dengan tenang.
“Pak, kalau pak yai ndak ada? Apa bapak bisa mengajariku mengaji? Pak, apa bapak lebih memilih kekuasaan sehingga membiarkan aku dan teman-temanku larut dalam kebodohan?” Tak ada jawaban apapun dari pak Asmir, sedang Eko nampak tersekat tak mampu berkata-kata lagi sebab air matanya menetes kian deras.
Lalu pak Asmir mulai bergerak, berjalan maju mendekati puteranya. Tak lagi ada amarah, sebab beliau memeluknya seraya mengucap maaf. Malam yasinan kali inipun ditutup dengan Pak Yai yang melepas jabatannya dari kades untuk kemaslahatan bersama, memilih menjadi setitik cahaya di surau kami yang remang.

Wednesday, June 19, 2019

Resensi buku hafidz rumahan "Resonansi Cinta Keluarga Surga"


“Seorang anak yang cerdas lahir dari seorang ibu yang cerdas juga.”
Kita mungkin kerap mendengar kalimat tersebut, perihal ibu adalah madrasah pertama bagi seorang anak. Namun ternyata, peran seorang ibu tentu tak akan bisa berjalan begitu mulusnya tanpa ada dukungan dari ayah selaku kepala rumah tangga serta dari anak-anak itu sendiri yang merupakan buah hati orang tua.


Dalam buku Hafidz Rumahan, kita diajarkan tentang cinta dan ketaatan membuat pasangan halal bernama Ramlan Dalimunthe dan Sri Maharani Hasibuan mampu membimbing anak-anaknya bukan hanya menjadi pribadi yang berakhlakul karimah, namun juga menjadi para penghafal Al-Qur’an.

Tugas berat sebagai orang tua agar bisa menyelamatkan keluarga dari siksa neraka, menjadi pengingat saat semangat mulai melemah atau sedang menghadapi kesulitan. Ketakutan itu membuat mereka sanggup menjalani hari-hari sulit yang harus dilalui, mendidik anak-anaknnya agar menjadi hamba yang sholeh dan bermartabat (Halaman 41)

Kalau bukan karena cinta dan ketaatan, Ramlan Dalimunthe atau yang sekarang dikenal sebagai ustadz Abdurrohim serta istrinya yang berganti nama menjadi Siti Hajar setelah mereka hijrah, mungkin telah lelah mendidik anak-anak mereka sesuai tuntunan Rasulullah. Menerapkan jadwal hafalan dan ta’lim, mencari seribu cara ketika anak-anak mereka mulai jenuh menghafal, merengek meminta bermain. Jika bukan karena ingin yang terbaik untuk anak-anaknya, mungkin ustadz Abdurrohim dan istrinya akan membiarkan anak-anaknya larut berinteraksi dengan orang-orang serta bermain sesukanya. Siti Hajar dan Ustadz Abdurrohim bukan melarang anaknya bermain, hanya saja mereka tidak ingin pendidikan islami yang didapatkan anak-anaknya di rumah sia-sia sebab tercemari oleh lingkungan yang kurang mendukung.

Menyikapi “naluri anak adalah bermain” bagi Siti Hajar, tanpa diberi kesempatan, pun anak-anak akan menemukan caranya sendiri untuk bermain. Dengan mendidik mereka menghafal Al-Qur’an sedini mungkin, bukan berarti mematikan nalurinya, hanya menyedikitkan waktu bermainnya untuk hal yang lebih penting. (Halaman 87)

Untuk menciptakan rumah yang kokoh maka kita membutuhkan pondasi yang kuat, dan tentunya setiap rumah tidak hanya memiliki satu sisi saja, berbagai sisi butuh pondasi hingga rumah bisa berdiri tegap. Begitu pula sebuah keluarga, ketika Siti Hajar masih jahil dan berpakaian sesuka hati serta berperangai kurang baik, isak tangis Ustadz Abdurrohim pada setiap hening malam meluluhkan hatinya. Lalu berkat doa dan izin Allah Siti Hajar berubah menjadi muslimah yang luar biasa, ia salurkan cinta kasih yang ia dapat dari suaminya terhadap anak-anaknya hingga 7 anaknya menjadi hafidz/oh.

Keberhasilan tersebut tentu juga tidak terlepas dari anak-anaknya juga, terutama Fatimah anak pertama ustadz Abdurrohim dan Siti Hajar yang memulai menghafal Al-Qur’an dikeluarga kecil mereka.

Masya Allah! Tidak disangka, ternyata sisulung bisa memahami dan merespon isi pesan yang disampaikan saat temanya terkait dengan keutamaan berinteraksi dan hafal Al-Qur’an.
“Enak ya kalau kita hafal Al-Qur’an” komentarnya
“Mau?” tanya Rani
“Mauuuuu!” Jawabnya gembira. (Halaman 16)

Keinginan Fatimah itulah yang pada akhirnya membuat keluarga mereka menjadi penghafal Al-Qur’an, membuat Siti Hajar belajar memperbaiki bacaannya. Belaiu belajar pada ustadz Abdurrohim yang mengaji pada sebuah kelompok ta’lim, lalu Siti Hajar mengajarkannya pada anaknya. Saling berkesinambungan membentuk sebuah resonansi cinta dan ketaatan.

Seorang ayah bertanggung jawab atas nafkah untuk keluarga; istri dan anaknya. Ayah mencarinya diluar rumah, kemudian diolah oleh yang di rumah untuk memenuhi kebutuhan seluruh keluarga. Dalam pemahaman Abdurrohim, nafkah itu bukan hanya berupa uang yang digunakan untuk membeli bahan makanan; beras, lauk pauk, dan sayuran tetapi juga ilmu agama. (Halaman 38)

Buku yang bercerita kisah ustadz Abdurrohim dan keluarganya dalam buku Tahfidz Rumahan menyadarkan kita pentingnya peran keluarga sebagai penguat dalam proses hijrah. Bagaimana perjuangan tidak hanya dilakukan oleh satu orang seperti ayah yang menjadi pemimpin keluarga, tapi semua anggotanya. 

Buku ini cocok untuk orang tua dalam mendidik anaknya, atau bahkan para jomblo yang sedang menantikan jodoh dalam rangka mempersiapkan diri. Bahasa yang digunakan Neny Suswati selaku penulis juga sederhana dan mudah dipahami, setiap penjabaran disertai dengan dialog-dialog dalam kisah nyata keluarga ustadz Abdurrohim, pada satu part ada beberapa kisah sahabat Rasul, yang merupakan inspirator dari keluarga islami tersebut. Foto-foto pada setiap part juga membuat pembaca lebih masuk pada cerita hidup keluarga ustadz Abdurrohim.

Buku Tahfidz Rumahan menyadarkan kita bahwa sebenar-benarnya cinta bukanlah dibuatkannya rumah yang megah, mainan anak-anak yang berserakkan di dalam ruang kamar, makanan yang menghiasi meja makan dengan berbagai menu, serta lainnya yang bersifat keduniawian. Cinta yang benar yaitu ketika saling menjaga keluarga dari api neraka dengan menegakkan jalan dakwah bersama, melantunkan serta menghafalkan ayat Al-Qur’an dan mengamalkannya. Saling mencintai dalam ketaatan, tanpa peduli celoteh orang lain yang tak sejalan. 




Judul            :           Hafidz Rumahan (Ikhtiar Keluarga Awam Melahirkan 7 Penghafal Al-Qur’an
Penulis         :           Neny Suswati
Penerbit       :           Aura Pubhlishing
Cetakan       :           Februari 2019
Tebal           :           200 halaman
ISBN          :           978-623-211-033-5


Saturday, March 9, 2019

“AKU ADALAH MASA KECILKU”


pict : google

Sigmund Freud, seorang tokoh psikologi kritis mengemukakan sebuah kalimat “masa kecil adalah ayah bagi kehidupan seseorang.” Hal tersebut tentu bukan tanpa alasan.
Segala hal yang dilakukan seorang anak semasa kecil begitu membekas, dan terbentuk menjadi sebuah perilaku yang menetap dalam diri sang anak. Anak yang semasa kecilnya menjadi korban kekerasan seksual, maka kemungkinan besar ia akan menjadi seorang pelaku kejahatan seksual, jika tidak ditangani dengan benar. Sama hal dengan seorang anak yang selalu ditentukan akan mengenakan baju oleh si ibunya, maka jangan salahkan seorang anak tersebut bahwa ketika dewasa ia tak mampu menentukan satu pilihanpun dalam hidup.

Dalam tradisi masyarakat kita, ketika sang anak sedang belajar berjalan dan jatuh maka orang tua akan menyalahkan lantai atau tembok dengan memukul-memukulnya sambil mengatakan hal-hal yang seolah menghibur sang anak. Tapi percayalah, hal itu tak berguna sama sekali. Jika hal itu terus terjadi, sang anak akan tumbuh menjadi pribadi yang suka menyalahkan orang lain.
Anak yang terlalu diberi kebebasanpun demikian, ia dapat saja menjadi pembangkang yang handal. Biarkan anak memilih, jika salah maka beri penjelasan.

Sebagai orang tua atau calon orang tua, mungkin kita bertanya-tanya sebenarnya apa yang harus kita lakukan untuk perkembangan anak ke arah yang lebih baik? Berikut adalah kiat-kiatnya :

1.      Jangan terlalu mengkritik anak
Ketika orang tua terlalu banyak mengkritik anaknya, maka anak akan tumbuh menjadi pribadi yang tidak percaya diri, suka menyalahkan orang lain, atau bahkan menjadi pengkritik yang handal pula kepada orang lain atau bisa saja pada orang tuanya ketika ia tumbuh dewasa.

2.      Jangan biarkan anak terlalu banyak menonton TV
Tayangan TV semakin hari menampilkan sinetron-sinetron yang tidak layak ditonton oleh anak-anak. Menonton TV juga mengajarkan anak untuk pasif. Maka untuk ibu dan ayah, lebih baik membacakan dongeng, aktivitas ini membuat si anak lebih aktif dengan mengajukan beberapa pertanyaan pada ibu atau ayahnya melalui apa yang ia dengar atau ajak anak ke suatu tempat yang menambah pengetahuan dan kreativitasnya.

3.      Jangan membentak anak
Tahan emosimu, jika ingin anakmu tumbuh dengan baik. Jangan membentak, terlebih ketika hendak menjelang tidur atau pagi hari saat ia baru saja terbangun dari lelapnya. terlebih ketika anak dalam kondisi mengantuk. Karena kondisi tersebut gelombang otak berada pada fase alpha dan tetha karena keduanya berada di level alam bawah sadar, itu artinya anak mudah diberikan sugesti. Jika orang tua mengatakan hal-hal yang menyakitkan, maka itulah yang tertanam dalam benaknya.

4.      Jangan bertengkar di hadapan anak
Anak adalah seorang peniru yang ulung, hal ini selaras dengan teori Albert Bandura yang menjelaskan sebuah teori modelling, di mana anak meniru perilaku orang-orang atau lingkungan terdekat di mana ia tumbuh.

Anak yang kerap menonton aksi ayahnya memukuli ibunya, maka akan banyak kemungkinan yang terjadi. Ia akan tumbuh menjadi seorang pemukul, atau bisa saja ia trauma pada laki-laki dan pernikahan karena tak ingin mengalami hal yang sama seperti ibunya.

Nah, sekarang kita sudah tau kiat-kiatnya, semoga anak-anak kita bisa menjadi generasi yang tumbuh dengan pribadi yang lebih baik dengan mengaplikasikan kiat-kiat tersebut dalam keluarga kita.

My Favourite Lecturer




Di tempatku belajar, ada seorang pendidik yang begitu menawan. Tidak hanya perihal penampilan tapi juga pengetahuan. Beliau selalu tampil menarik dengan fashion stylish, membawa sebuah tas jinjing ala wanita karir beserta sebuah laptop dalam tas berwarna coklat susu. Beliau tak seperti kebanyakan, porsi yang seimbang menurutku.

Wanita pintar itu identik sekali dengan tas ransel dengan tumpukkan buku-buku tebal di dalamnya, wajah polos tanpa polesan make up sedikitpun bahkan terkadang kuliah tak mandi karena semalam begadang membaca buku, wajah kucel tak terawat. Namun beliau benar-benar mematahkan argumen itu. “orang yang membawa buku-buku tebal, belum tentu memahami isinya.” aku hanya mengiyakan saat itu, selepas di maki habis-habisan karena katanya aku terlalu ambisius dalam menentukan judul skripsiku, terlalu jauh sedang aku hanyalah peneliti pemula tak lupa beberapa kali beliau menambahkan kata bodoh agar aku sadar.

Kembali pada pembahasan tentangnya, beliau juga mengatakan “Sama hal seperti orang yang seolah-olah cinta dunia, belum tentu mereka masuk surga.” Itulah analoginya, menyamakan dengan pendapatnya yang pertama. Berulang kali beliau menegaskan, hablumminallah adalah hubungan dengan Allah, tak layak manusia mengetahuinya. Sedang hablumminannas tentu perlu, tapi kita juga tak perlu begitu menghamba pada seorang hamba, kita perlu jadi cermin untuk dihargai. Kau tau makna cermin menurutnya apa, beliau berlaku sesuai orang memperlakukannya tapi dengan tidak memulai sesuatu yang buruk dalam hablumminannas tersebut.

Di semester 6 ini, mata kuliahnya menjadi mata kuliah pilihan, hanya ada satu kelas dan aku berada di antara mahasiswa lainnya. Bukan tanpa alasan, meski belum terlalu memahami mata kuliah yang ku ambil bersama 2 rekan dari kelas yang sama denganku tapi sebenarnya tujuan awalku adalah agar dapat belajar di bawah tekanan, menjadi sebenar-benarnya mahasiswa yang sangat terasa ketika belajar dengan beliau. Aku juga semakin merasa tak salah memilih mata kuliah yang diampu beliau, ketika teman-teman sekelasku justru tanpa ragu tak menceklis mata kuliah beliau di kartu rencana study. Hari pertama belajar, aku mengurus absenku dimata kuliah ini. Mengikuti beliau hingga tiba di ruangannya, menghidupkan wifi dan duduk nyaman dengan anggun.

Kami memulai dengan pembicaraan ringan, seputar motivasi yang selalu beliau berikan seperti di kelas. Ia wanita tangguh, ingin sekali ku ceritakan begitu hebatnya beliau. Tapi tentu tak bisa, aku tak memiliki cukup keberanian tuk meminta izin mengabadikan namanya dalam sebuah buku otobiografi.

Semester 6, fase yang ringkih bagiku. Kami menentukan judul siang yang dingin, entah berapa rendahnya suhu ac hari itu. Aku bersama 3 rekan, yang 2 di antaranya berbeda kelas denganku tak sengaja memasuki ruang bersama hingga melakukan bimbingan bersama hingga menjadi partner, beliau meminta kami terus berempat setiap bimbingan. Berharap kami lulus 3 tahun bersama-sama, yang sangat aku Amiini tentunya. Tak ada mahasiswa yang ingin kuliah lama kan? Dan artinya, banyak mahasiswa yang ingin kuliah cepat, apalagi mendapat doa dari seorang guru yang ditakdzimi.
Tujuan beliau hanyalah, merasionalkan pikiran-pikiranku yang dangkal hari itu. Menyemangati dan menekan diri agar aku berubah.

“Saya paham sekali kamu suka baca buku, saya juga sama. Permasalahan orang kritis juga selalu sama, tak ingin membuat sesuatu yang sama dengan orang lain.” Kurang lebih begitu yang beliau sampaikan.

“Saya tau, pasti ada gejolak dalam dirimu yang ingin membuat suatu hal yang luar biasa. Tapi ini bukan hanya soal bagus tapi soal waktu. Skripsi yang bagus itu yang selesai dalam waktu secepat-cepatnya.” Sambungnya, manik matanya menatapku tajam. Menusuk sekali.

Hari itu, di antara empat temanku yang judulnya ditolak mentah-mentah adalah aku. Katanya jika ingin melanjutkan aku harus mendapat dana hibah dari pemerintah, beberapa belas juta. Ah, itu hanya gurauan tentunya. Dalam arti lain beliau mengatakan bahwa ini bukan pembuatan thesis atau penelitian, jadi turunkan kadar kesulitan judulmu.

Siang itu juga selepas menemuinya, aku duduk seorang diri di sebuah educafe dengan rak-rak buku yang berjejer pada tiap sudut ruang. Kita tinggal memilih ingin duduk lesehan dibawah rak-rak tersebut atau duduk dikursi yang disebuah tempatnya disediakan terminal dan wifi, meskipun tak membeli minum sekalipun. Tempat yang menarik bukan?

Dibangun oleh seorang dosen yang mengajar di kampusku, mungkin tujuannya untuk mensejahterakan mahasiswa sepertiku misalnya. Meski ada saja yang memanfaatkan tempat ini dengan kurang bijak, dijadikan tempat pacaran dengan HAHA HIHI berdua, ada juga sekelompok mahasiswa yang mabar. Maen games bersama dengan saling memaki antara satu dan lainnya.
Aku belum bertemu lagi dengan beliau, kan ku ceritakan lagi. Akan ku bawakan beliau judulku yang baru, yang lebih rasional tentunya.